Walk4Free Oleh Vika Nurdian Soleha 

Dalam perjalanannya, Walk4free mengalami tiga kali perubahan nama. Pertama, walk for free drugs, kedua berubah menjadi walk for a drugs free life dan ketiga berubah menjadi walk for free, yg biasa ditulis Walk4free. Walk4free diinisiasi oleh kawan-kawan Yayasan Grapiks 2014 silam. Walk4free adalah kegiatan berjalan kaki yang bertujuan untuk mendapatkan kebebasan. Dalam hal ini terbebas dari penyakit, terbebas dari rutinitas, juga terbebas dari pikiran-pikiran negatif. Walk4free diikuti oleh berbagai kalangan, masyarakat umum maupun komunitas seperti pengguna napza, Gay, Waria dan ODHIV (orang dengan HIV). Pada Bulan Januari 2014, kami memulai perjalanan dari Dago Pakar ke Maribaya. Perjalanan tersebut memberikan dampak positif bagi para peserta, diantaranya adalah meningkatkan kebahagian dan kesehatan.


Kemudian pada pertengahan tahun 2014, kami melakukan perjalanan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango hingga ke sumber air panas. Saat itu kami belum mencapai puncak gunung karena tidak membawa peralatan camping. 16 agustus 2014 merupakan pendakian pertama kami. Pendakian tersebut merupakan pendakian tektok alias pulang pergi dan tidak camping. Kami semua dihadapkan pada situasi sulit, melewati trek yang curam karena jarang sekali di lewati pendaki. Kami belajar banyak dalam pendakian tersebut, kami belajar untuk tidak egois dan peduli pada sesama.


Tahun 2015, kami mulai mendaki gunung-gunung di Jawa Barat. Pada bulan Januari kami melakukan pendakian ke Gunung Cikuray dan Gunung Burangrang. Bulan Maret Ke Gunung Rakutak, Bulan April ke Gunung Ceremai, Bulan Mei ke Gunung Guntur, Bulan Juni ke Gunung Manglayang, Bulan Agustus ke Papandayan, Bulan September Ke Gunung Salak dan bulan Oktober ke Gunung Geulis. Kami mendaki bersama teman-teman ODHIV, mereka mengaku bangga atas pendakian tersebut dan mampu meningkatkan kepercayaan diri. Teman-teman pengguna napza pun sangat senang karena pendakian mampu mengalihkan mereka dari kecanduannya.
Tahun 2016, kami pun melakukan pendakian meski intensitasnya berbeda dengan 2015 karena kesibukan kami yang beragam. Mengawali tahun 2016 dengan mendaki Gunung Kerenceng bersama pengguna napza dan komunitas pendaki gunung lainnya. Sebulan kemudian kami mendaki gunung kerinci yang merupakan gunung tertinggi di Sumatera dan merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia. Pendakian menghabiskan waktu 3 hari 2 malam dan pendakian hari pertama di guyur hujan. Kami bersyukur pendakian berjalan lancar dan seluruh tim diberikan kesehatan hingga kembali ke Bandung.


Tahun 2016, kami pun melakukan pendakian meski intensitasnya berbeda dengan 2015 karena kesibukan kami yang beragam. Mengawali tahun 2016 dengan mendaki Gunung Kerenceng bersama pengguna napza dan komunitas pendaki gunung lainnya. Sebulan kemudian kami mendaki gunung kerinci yang merupakan gunung tertinggi di Sumatera dan merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia. Pendakian menghabiskan waktu 3 hari 2 malam dan pendakian hari pertama di guyur hujan. Kami bersyukur pendakian berjalan lancar dan seluruh tim diberikan kesehatan hingga kembali ke Bandung.


Tahun 2017, momen bersejarah bagi keempat orang wanita. Saya, Dina, Reni dan Teh Dewi. Ini adalah pendakian pertama tanpa para lelaki. Gunung Rinjani yang berada di Lombok juga merupakan salah satu gunung tertinggi di Indonesia menjadi tujuan kami. Perjalanan kami diantar oleh teman-teman Walk4free hingga ke Bandara Husein Sastranegara Bandung. Pendakian menghabiskan waktu 3 hari 3 malam dengan berjalan santai. Alhamdulillah lancar tak ada kendala. Kami berempat mampu mengatasi rasa khawatir serta melawan rasa takut. Ilmu pendakian yang kami dapatkan tiga tahun terakhir sangat berguna bagi kami, diantaranya safety prosedur dan kecukupan logistik. Seperti biasa, pendakian kami mengandung kampanye sosial, kami menyuarakan tak ada stigma dan diskriminasi bagi para korban napza. Kami pun mengajak masyarakat luas untuk berolahraga.Tahun 2017 adalah pengalaman yang luar biasa bagi kami. Bertepatan dengan Hari AIDS Sedunia pada tanggal 1 Desember 2017, kami mendaki 7 puncak gunung di Jawa Barat secara serentak. Gunung Geulis Yang diketuai oleh Saya sendiri membawa komunitas Waria. Gunung Guntur yang diketuai oleh Teh Dewi membawa teman-teman ODHIV dan Gay. Gunung Cikuray yang diketuai oleh Rosan membawa teman-teman ODHIV, Gunung Burangrang yang diketuai Oleh Kinoy dan Dian membawa teman2 pengguna napza dan masyarakat umum. Gunung Tampomas yang diketuai oleh Reni membawa teman-teman pengguna napza dan ODHIV. Gunung Singa yang diketuai oleh Giri membawa masyarakat Umum. Gunung Manglayang yang diketuai oleh Dina membawa pengguna napza dan masyarakat. Acara ini didukung oleh ibu Atalia Kamil yang pada saat itu menjadi Ibu Walikota Bandung dan kami melakukan audiensi ke pendopo sebelum keberangkatan. Pendakian serentak di 7 Gunung Jawa Barat ini pun diliput oleh beberapa media.


Tahun 2018 kami mengulang cerita pendakian serupa namun terfokus di satu gunung. Peringatan Hari AIDS Sedunia di Gunung Papandayan diikuti sekitar 50 orang. Gay, pengguna napza, ODHIV dan masyarakat umum semuanya bergabung. Acara ini didukung oleh istri Walikota Bandung Ibu Siti muntamah Oded, S.Ap. Dan kami melalukan audiensi ke pendopo walikota sehari sebelum keberangkatan ke Gunung Papandayan. Kami senang jika ada masyarakat atau komunitas lain yang bergabung, sebisa mungkin kami memberikan energi positif kepada mereka, membuat mereka nyaman dan senang berjalan kaki. Kami pun mengajak serta stakeholder (mitra kerja) untuk berjalan kaki, tidak melulu mendaki gunung. Namun intinya berjalan kaki untuk mempertahakan kesehatan dan kebahagiaan.